Kamis, 24 April 2014  |  Find Us On :
Anasir Gagalnya Pembangunan di Sumsel
Opini   Syafi  |  Jumat, 28 Des 2012 - 16:03:15 WIB  |  0 komentar
Share |

Sumber Foto : forumbebas.com

Ilustrasi gagalnya pembangunan di sumsel

 

Tak perlu muluk-muluk mengukur keberhasilan pembangunan disuatu kawasan. Lihatlah jalanya. Jika jalan rusak, susah dilewati, berlobang. Ini adalah tanda-tanda dari gagalnya pembangunan di suatu kawasan.
 
Kenapa mesti jalan, sebagaimana filsuf China berkata, “bangunlah jalan, maka kesejahteraan akan datang,”. Jalan yang rusak sudah pasti menghambat datang kemakmuran. Jalan yang baik, bagus dan lancar akan mempermudah masyarakat untuk beraktivitas.
 
Pada akhirnya masyrakat akan produktif, distribusi barang lancar, akses informasi dan kemajuan didapat. Dengan lalu lalangnya akses, maka dengan sendirinya masyrakat dapat beroleh keuntungan dari setiap kegiatan ekonomi yang dilakukanya.
 
Perihal pembangunan jalan, selain dapat meningkatkan aktivitas ekonomi suatu kawasan. Terlebih dari itu akan dapat memompa masyarakat untuk lebih kreatif dan produktif. Masyarakat tidak terkendala dengan beragam halangan dan hambatan untuk memulai aktivitas. Bekerja, bersekolah, hingga berkarya.
 
Jalan yang macet akan sangat menganggu masyarakat dalam melakukan mobilitas. Kepenatan dalam kemacetan ataupun dalam perjalanan yang penuh resiko kecelakaan akan menghabiskan energi besar sebelum tugas yang utama dikerjakan. Itulah kenapa, pembagunan jalan yang baik akan mampu meningkatkan roda kesejahteraan masyarakat.
 
Jaminan dari pembangunan jalan yang bagus, sudah barang tentu akan membuat masyarkat energik dalam menatap hari-hari kedepan. Tanpa kekhawatiran akan kemacetan maupun jalan yang penuh dengan lubang. Kemacetan, jalan rusak, kecelakaan tentunya juga akan menambah beban biaya bagi masyarakat maupun perusahaan dalam menjalankan aktivitas distribusi dan produksi.
 
Anasir inilah yang menjadi alasan utama bagi saya mengatakan, baik buruknya pembangunan dapat diukur dengan melihat pembangunan jalannya.
 
Lalu bagaimana dengan di Sumsel. Riuh celoteh para mahasiswa di twitter setiap pagi dan sore mengenai kisah kemacetan di jalur Indralaya-Palembang merupakan salah satu bukti bagaimana pembangunan jalan di Sumsel belum mampu memberikan aspek manfaat bagi masyarakat, khususnya mahasiswa.
 
Selain itu, dari banyak pemberitaan  terdapat 95 kilometer jalan provinsi di Sumatera Selatan (Sumsel) hingga saat ini masih dalam kondisi rusak berat. Kerusakan jalan ini tersebar pada sejumlah kabupaten kota di Sumsel dengan panjang bervariasi mulai dari 3 kilometer hingga 5 kilometer setiap titik kerusakannya. Akibat kerusakan jalan, arus lalulintas kendaraan menjadi terganggu. Untuk keselamatan, jalan rusak tersebut hanya dapat dilintasi dengan kecepatan rata-rata 10 hingga 15 kilometer per jam saja.  (http://rri.co.id/index.php/detailberita/detail/37939)
 
Bahkan, dalam pantauan terlihat kondisi jalan Tanjung Api-Api yang sekarang rusak parah akibat angkutan batu bara, padahal pembangunan jalan itu dibiayai dengan uang rakyat. Tak kurang dari Rp 480 miliar dari APBD untuk membangun Sumsel, tetapi jalan rusak akibat penggunaan yang salah.
 
Lalu tengoh juga kerusakan jalan penghubung antara Palembang-Banyuasin di kawasan  di Desa Talang Kramat, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin, Sumatera Selatan. Jalan rusak parah dari 7 bulan silam, beberapa kali kecelakaan juga kerap terjadi. Pemerintah belum mengambil sikap.
 
Belum lama juga warga dari 11 desa di Muaraenim meminta perbaikan jalan dari Simpang belimbing hingga Talang Rimbo (http://daerah.sindonews.com/read/2012/09/25/24/674737/warga-11-desa-tuntut-perbaikan-jalan). Jalan rusak. Kondisi yang sama juga nampak di jalan provinsi Pagaralam-Kepahiyang yang berada di Kabupaten Empatlawang, lubang menganga dimana-mana. Sangat rawan kecelakaan.
 
Belakangan, amburadulnya jalan di Sumsel juga diprotes kalangan pengusaha batubara. Beberapa jalan penghubung sebagai alternatif angkutan batubara juga masih belum mulus dibangun. Padahal, sejak 1 Januari mendatang, Truk-truk batubara dilarang melewati jalur umum. Kondisi ini pasti akan menimbulkan polemik. Diketahui, secara umum hingga Maret lalu, dari 1800 Km jalan provinsi di Sumsel, 300 Km dalam kondisi rusak berat.
 
Melihat anasir sederhana ini, tentunya semua pihak bisa menyimpulkan sendiri bagaimana kualitas pembangunan di Sumsel terutama bila dipotret dari sudut pandang pembangunan jalan. Kegagalan yang tak bisa dimaafkan
 
 
Share |
Opini Lainnya
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini
Nama :
Website :
Komentar  
   
   (Masukkan 6 kode diatas)